Selasa, 01 April 2014

Dia Bukan Orang Gila!

,
Seperti biasa, ketika gema adzan mengalun dengan indah memanggil di waktu petang, saya pun beranjak dan meninggalkan kediaman untuk menunaikan kewajiban.  Di musholla, yang terletak di pinggir jalan raya, dengan hampir setiap detik terdengar suara bising knalpot dan klakson kendaraan, menjadi ujian bagi saya untuk tetap khusyu' dalam sholat. Tak jarang saya sendiri agak terganggu dengan keadaan ini, lebih-lebih ada banyak bocah kecil yang ikut ke musholla. Suara gaduhnya semakin menguji keimanan saya agar tetap tenang... dan tenang.

Sholah maghrib usai saya tunaikan, dengan perasaan yakin serta percaya bahwa sholat berjama'ah lebih utama dan lebih banyak pahalanya. Walau jujur saya ke musholla hanya di waktu maghrib dan isya'. Rasanya lega, tertram, dan senang bermadu kasih bersama sang Pencipta. Menyadari tugas saya sebagai hamba tidak hanya sholat ke masjid. Masih ada banyak kewajiban yang menanti di rumah, yaitu ngaji. Setelah berjalan dari musholla yang jaraknya kurang lebih 300 meter tibalah saya di rumah. Bergegas saya sholat rowatib hingga akhirnya mengaji. Hmm... saya rasa hanya itu aktivitas saya di malam hari.

Suaru muadzin dari masjid besar terdengar, seakan mengabarkan bahwa sudah waktunya manusia kembali menyembah sang Khaliq. Bersahutan gema itu, dari seluruh arah, akan tetapi cukup lama saya belum mendengar suara adzan dari musholla. Saya pun tetap melangkahkan kaki menuju ke sana. Ada banyak keprihatinan tiap kali saya melewati pinggir jalan. Banyak manusia yang entah sadar atau tidak seperti tak mendengar suara pemanggil itu. Terbukti masih ramai lalu-lalang kendaraan melintas. Telinga saya semakin panas, gerah, karena banyak kerancuan di kanan-kiri-belakang-depan, lengkap. Saya kerap harus menundukkan kepala ke bumi hanya untuk menghindari godaan yang ada di depan mata saya. Memang godaan itu beraneragam, tetapi saya lebih membentengi dari para wanita yang  berpakaian tapi sebenarnya telanjang. Maka tetap menundukkan kepala adalah bagian dari hijab iman yang diajarkan Rosulullah.

Akhirnya sampailah saya di musholla. Tapi apa yang terlihat. Astagfirullah... belum ada satu pun jama'ah yang hadir. Mbah Bashar, imam yang biasa memimpin jama'ah sholat isya' pun tak datang. Saya bergegas mengambil air wudhu. Suara adzan dari masjid lain sudah lama tak terdengar, dan memang terlambat jika adzan, toh cuma ada saya. Dengan hati yang terus beristigfar akan keadaan memprihatinkan ini, kemudian saya sholat sendirian. Ya, sholat sendiri dengan tempat yang statusnya musholla tentu membuat saya terus meminta ampunan pada-Nya. Pikiran saya penuh dengan pertanyaan, apakah seperti ini keadaan umah Islam saat ini? Rasanya ingin berteriak sekeras mungkin, agar penduduk terdengar suara saya. Entah mengapa, orang-orang yang notabene berdekatan dengan mushollah tak selalu datang lebih dulu saat sholat. Padahal saya bermimpi ingin mempunyai rumah yang dekat dengan masjid, agar saya bisa terus sholat berjama'ah. Sayang, mereka tak sadar akan hal itu dan selalu datang tak semangat.

Oh, ya, malam cukup banyak kejadian yang menyita iba dan empati hati ini. Seusai saya sholat, saya duduk sebentar di lantai luar musholla. Bersama kak Kibin, teman sekaligus kakak yang juga sering berbicara soal bola. Di sela awal perbincangan kami, tiba-tiba mata saya melotot tajam melihat sesosok manusia di trotoar sembrang jalan. Awalnya saya tidak menyadari bahwa itu manusia, sebab tak bergerak. Saya pun terus memperhatikannya, ternyata benar, sesosok itu adalah wanita yang sesudah sholat maghrib tadi saya berpapasan. Tepatnya seorang nenek, sudah renta, bajunya lusuh, mukanya kusut, dengan daun kemangi di sampingnya. Nenek renta benar-benar berhasil membuat relung hati saya menangis. Melihat keadaannya yang sungguh memprihatinkan. Saya memastikan nenek itu bukan orang gila, karena sebelumnya saya sudah tahu dia manusia normal.

:'( :'( :'( Sedih... sedih sekali saya melihatnya. Nenek itu terlihat sangat ngantuk. Jika saya ibaratkan rasa kantuknya seperti orang yang kejang-kejang. Astaghfirullah... saat itu juga saya benar-benar ingin menemuinya. Tapi beribu sesal saya timpalkan kepada diri saya karena belum bisa membantunya. Saya yakin, nenek itu lapar, haus, butuh kehangatan, dan banyak lagi. Saat saya berjalan pulang, saya betul-betul terus memikirknnya, seraya sesekali menyeka air mata saya. Saya tak kuat setiap melihat keadaan seperti ini. Karena saya selalu membayangkan, bagaimana bila saya berada di posisi seperti itu? Entah, mungkin saya tidak akan mampu.

Kini sejuta pertanyaan saya tujukan pada keluarga nenek itu. Di mana anak-anaknya? Begitu teganyakah "menelantarkan" ibunya malam-malam seperti ini? HAAAAAAAAA!!!!! Saya tak habis pikir. Astagfirullah... ':(

Hidup ini memang kejam. Kejam sekali. Manusia dengan gelagat egois terus tumbuh dan menjadi virus. Menular dari satu ke manusia lain. Tak ada yang bisa saya lakukan, karena di satu sisi keadaan saya tak memungkinkan. Sebagai hamba, saya hanya mampu berdoa kepada-Nya, Meminta dengan sangat agar Ia mengirimkan malaikat penyelamat kepada nenek tadi. Saya yakin, dengan berdoa sedikit banyak akan berimbas dengan terwujud keinginan. Sekarang hanya Allah yang tahu. Dengan sebab itulah, saya pun mulai tenang. Yakin saja bahwa Allah akan menyelesaikan semuanya, dan pastinya nenek renta nan malang tadi akan terjaga-terlindungi dalam naungan-Nya. Aamiin.

Aji Sutrisno

2 komentar to “Dia Bukan Orang Gila!”

  • 30 April 2014 pukul 05.57
    Unknown says:

    Masikan sedikit ya :D dari segi cerita menarik, tapi usahakan kalau dalam sebuah cerita tak usah pakai emotion " :) :( :D " ya. cukup pakai kata-kata saja.. itu sudah cukup heheh. Oke semangat!

  • 1 Mei 2014 pukul 09.51

    hehe, terima kasih sarannya.

Posting Komentar

 

Introvert Copyright © 2014 | Template design by Aji Sutrisno | Powered by Blogger Indonesia