Rabu, 26 Februari 2014

Surat untuk Pak SBY

,
Yth Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Indonesia
di tempat.

Assalamualaikum wr. wb.

Yang terhormat Pak SBY,
Saya menulis ini karena rasa ingin berdialog dengan Pak SBY, tapi sayangnya saya tidak sanggup menembus pagar istana dan tak kuat melawan ajudan-ajudan bapak. Saya kadang bertanya-tanya, kenapa tidak semua orang diberi kebebebasan untuk menyuarakan aspirasinya di depan kedua mata bapak. Padahal masyarakat ingin sekali berbincang  dan menanyakan bebiru-ribu pertanyaan mengenai keadaan negeri ini. Tapi hal itu tampaknya tak mungkin bapak galakkan di tengah kesibukan bapak mengurusi negara. Pak SBY Presiden Republik Indonesia, saya heran dengan keadaan negeri ini di akhir-akhir jabatan bapak. Segala sendi kehidupan berubah derastis. Ekonomi, sosial, politik, bahkan moral mengalami perubahan signifikan di akhir periode kepemimpinan bapak. Baru-baru ini negeri bapak diguncang kabar tak sedap; Rupiah melemah. Kenapa hal ini bisa terjadi pak? Bukankah negeri ini salah satu negeri kaya seantero jagad raya ini, tapi mengapa sampai sekarang masih saja terjadi hal-hal yang seperti itu. Pak, menurut saya, pemimpin itu mesti punya ketegasan total. Berani ambil kebijakan dan tak pandang bulu. Saya kenapa bisa bilang demikian, mungkin ini agak sedikit pedas di telinga bapak. Pak, apakah para menteri-menteri yang bapak tugaskan itu sudah benar-benar bapak teliti keberhasilannya maupun tanggung jawabnya? Karena miris, rakyat sudah menjerit dengan berbagai harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, tapi kok saya tidak pernah melihat ada respon yang serius dari menteri-menteri bapak? Rata-rata para menteri hanya bilang; “Sabar saja, rupiah tak lama akan stabil” Ah, rakyat tak butuh janji pak, rakyat hanya butuh kepastian yang sepasti-pastinya, terlebih hal tersebut menyangkut perut rakyat semua. Rakyat sudah sepantasnya menjadi prioritas utama dalam proses kesejahteraan bukan malah menteri-menterinya yang pergi seenaknya ke luar negeri dengan duit negara? Apakah ini yang dibilang demokrasi, pak? Dimana ketegasan dan komitmen bapak untuk menghapus segala bentuk kesusahan masyarakat?

Pak SBY yang dirahmati Allah
Sekaya-kayanya kepala negara itu punya komitmen kuat untuk menyejahterakan rakyatnya. Rakyat ingin melihat dan berjumpa, atau bahkan bertatap langsung di daerah-daerah mereka dengan seorang SBY. Tetapi kenapa rakyat hanya bisa menonton di televisi ketika Pak SBY cipika-cipiki dengan presiden dan perdana menteri negara lain? Kenapa rakyat hanya disuhuhi pemandangan tak elok yang membuat rakyat geram dan seperti dianaktirikan oleh bapak negaranya sendiri? Apakah bapak mengerti tentang itu? Pak, kehidupan masyarakat sosial di negeri yang bapak pimpin, juga rasa-rasanya tidak mengalami banyak kemajuan. Masih banyak pak, rakyat yang tidak bisa membeli nasi hanya karena harga kebutuhan pokok yang melampau jauh dari isi kantong yang mereka punya. Masih banyak pak, anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak punya biaya, atau biaya masuk sekolah yang mencekik Wong Cilik. Beasiswa sekolah yang digadang-gadang pak menteri pendidikan tidak ‘pure’ menjangkau pelosok-pelosok negeri ini. Masih saja saya melihat ditayangan televisi yang mempertontonkan betapa primitifnya calon-calon generasi muda bangsa Indonesia. Pak, boleh percaya boleh tidak, beberapa bulan yang lalu saya pernah menonton acara di Trans7 yang acaranya bernama “Indonesiaku”. Ya, Allah.. saya sangat tidak habis pikir pak, ketika reporter Trans7 mendatangi sekolah di pelosok sulawesi (sulawesi mana, lupa saya pak) Apa yang terjadi di sana pak? Anak-anak untuk menjangkau sekolahnya saja butuh beberapa kilometer, bahkan hingga melewati dan menyebrang belasan aliran sungai yang sangat deras. Hal itu masih mending, coba bapak bayangkan, pak, ketika reporter Trans7 mencoba menjadi guru ajar di kelas mereka dan menayakan; ” Gambar siapa ini, adik-adik?” (kala itu gambar bapak) Dengan lantang mereka menjawab keras; “Bupatiiiiiii” Detik itu juga, saya langsung memukul tembok kamar dengan tangan kepal saya, dan ingin menjerit sekeras mungkin kepada siapapun pemimpin negeri ini termasuk bapak, yang seperti “bisu” dan tak mau tahu akan hal mengenaskan ini. Ya, Tuhan.. saya setelah menontonvacara itu, jujur saya menetaskan airmata, pak. Betapa tidak? Saya yang tinggal di kota Jepara saja sudah agak mendingan dari pengetahuan tentang kepala bangsa ini, tapi ternyata masih banyak saudara-saudara saya yang tidak pernah tahu, siapa itu presiden RI.

Pak, SBY yang semoga sehat selalu,
Saya tahu, bangsa ini tidak bisa lepas dari politik. Tetapi politik yang bagaimana pak? Bukankah politik yang diserukan bapak beberapa waktu yang lalu, politik yang bersih, jujur, dan mengedepankan rakyat? Namun mengapa tidak sesuai yang rakyat rasakan. Menteri bapak saja, yang dahulu menggembar-gemborkan; Lawan! Saat ini malah mendekam di jeruji besi. Bapak saja yang beberapa aktu yang lalu mengatakan; tidak! Tapi ternyata sampai sekarang masih saja ada anak buah bapak yang mengatakan; iya! Ini sangat tidak manusiawi bagi rakyat pak. Rakyat seperti terbodohi dengan janji-janji anak buah bapak. Untungnya rakyat sekarang sudah pintar menganalisis siapa “dia” para bedebah-bedebah negeri ini. Rakyat sudah pandai menilai siapa yang benar-benar bekerja untuk rakyat, dan siapa yang hanya bekerja untuk kepuasan batin saja. Ah, rasanya sungkan pak jika saya berbicara korupsi. Satu karena bosan dengan kata itu. Dua karena muak dengan para pemakan bangkai saudaranya sendiri. Pak SBY yang dicintai rakyatnya, saya tahu bapak punya satu mimpi untuk membersihakn bangsa ini dari penjajahan anak-cucunya sendiri. Saya pun tahu bapak punya banyak “plan” untuk memajukan negeri ini menjadi negeri yang berpegang teguh pada norma dan kaidah. Namun melihat peristiwa politik yang terjadi di negeri ini, sepertinya “plan” yang bapak gadang-gadangkan itu tak terlihat. Di mana ya pak?. Pak SBY, menjadi pemimpin yang adil itu tidak mudah, saya tahu itu pak. Memimpin Indonesia yang luasnya sangat besar juga amat sulit. Namun saya sangat berharap, bapak mampu bersikap tegas terhadap para pelaku kejahatan politik. Kalau perlu jika terbukti salah dihukum mati saja pak, atau dibuat miskin saja. Ya, barangkali bapak akan keras mengatakan kepada saya bahwa hukuman mati bagi para bedebah menyalahi Hak Asasi Manusia. Mungkin jawaban itu sudah pasti bapak jawab tanpa mengetahui alasannya terlebih dahulu. Menengok di negera tetangga, Cina. Kenapa dia bisa menjatuhi hukuman mati? Bukan karena di sana menganut paham komunis, bukan karena mereka tidak punya ketetapan hukum mengenai HAM, bukan juga karena Cina agamanya tidak kuat. Ketiga alasan itu lawas pak. Kuno. Yang sebenarnya, bahwa kenapa Cina bisa mengambil keputusan menghukum mati bagi pelaku kejahatan politik; satu… Karena mereka punya ketegasan dan kebijakan yang berani! Berani!

Pak SBY yang rakyat patuhi,
Rakyat adalah fondasi atas kontruksi istana bernama Indonesia. Jika fondasinya itu kuat, dan menggunakan bahan berkualitas tentu istana tersebut fondasinya tidak akan pernah murka apalagi berani meruntuhkan bangunannya sendiri. Pak, rakyat tahu bapak seorang seniman ulung yang pandai menciptakan lirik-lirik lagu. Rakyat juga tahu bapak telah banyak mendapat penghargaan dari dunia luar. Rakyat juga tahu bapak sekarang sering berbicara di dunia maya. Rakyat tahu bahwa Ibu Ani hobinya memotret. Rakyat tahu bapak telah mempunyai menantu dan cucu yang cantik dan tampan-tampan. Rakyat tahu bapak dan sekeluarga tidak pernah rekreasi. Rakyat tahu bapak akan melepaskan jabatan Presiden. Rakyat tahu bapak menjadi palang pintu Partai bapak. AH, Rakyat kira semua itu tidak butuh banyak membicakan apa yang telah bapak miliki sejauh ini. Rakyat hanya butuh pemimpin yang pro-rakyat, tegas, adil, jujur, amanah, tablig, fatanah. Itu saja pak!

Wassalamualaikum wr.wb

Atas Nama Rakyat
Aji Sutrisno

2 komentar to “Surat untuk Pak SBY”

  • 28 Maret 2014 pukul 16.17
    Unknown says:

    TAMPILANNYA MENARIK MAS

  • 28 Maret 2014 pukul 16.31
    Dana says:

    Repetisi rakyat tahunya itu yang saya suka mas, luar biasa, saya sangat tersentuh dengan surat ini, saya ingin membacanya lagi dan lagi.....terutama pada bagian

    Menteri bapak saja, yang dahulu menggembar-gemborkan; Lawan! Saat ini malah mendekam di jeruji besi. Bapak saja yang beberapa aktu yang lalu mengatakan; tidak! Tapi ternyata sampai sekarang masih saja ada anak buah bapak yang mengatakan; iya! Ini sangat tidak manusiawi bagi rakyat pak. Rakyat seperti terbodohi dengan janji-janji anak buah bapak.


Posting Komentar

 

Introvert Copyright © 2014 | Template design by Aji Sutrisno | Powered by Blogger Indonesia