Yth Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Indonesia
di tempat.
Assalamualaikum wr. wb.
Yang terhormat Pak SBY,
Saya menulis ini karena rasa ingin
berdialog dengan Pak SBY, tapi sayangnya saya tidak sanggup menembus
pagar istana dan tak kuat melawan ajudan-ajudan bapak. Saya kadang
bertanya-tanya, kenapa tidak semua orang diberi kebebebasan untuk
menyuarakan aspirasinya di depan kedua mata bapak. Padahal masyarakat
ingin sekali berbincang dan menanyakan bebiru-ribu pertanyaan mengenai
keadaan negeri ini. Tapi hal itu tampaknya tak mungkin bapak galakkan
di tengah kesibukan bapak mengurusi negara. Pak SBY Presiden Republik
Indonesia, saya heran dengan keadaan negeri ini di akhir-akhir jabatan
bapak. Segala sendi kehidupan berubah derastis. Ekonomi, sosial,
politik, bahkan moral mengalami perubahan signifikan di akhir periode
kepemimpinan bapak. Baru-baru ini negeri bapak diguncang kabar tak
sedap; Rupiah melemah. Kenapa hal ini bisa terjadi pak? Bukankah negeri
ini salah satu negeri kaya seantero jagad raya ini, tapi mengapa
sampai sekarang masih saja terjadi hal-hal yang seperti itu. Pak,
menurut saya, pemimpin itu mesti punya ketegasan total. Berani ambil
kebijakan dan tak pandang bulu. Saya kenapa bisa bilang demikian,
mungkin ini agak sedikit pedas di telinga bapak. Pak, apakah para
menteri-menteri yang bapak tugaskan itu sudah benar-benar bapak teliti
keberhasilannya maupun tanggung jawabnya? Karena miris, rakyat sudah
menjerit dengan berbagai harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi,
tapi kok saya tidak pernah melihat ada respon yang serius dari
menteri-menteri bapak? Rata-rata para menteri hanya bilang; “Sabar
saja, rupiah tak lama akan stabil” Ah, rakyat tak butuh janji pak,
rakyat hanya butuh kepastian yang sepasti-pastinya, terlebih hal
tersebut menyangkut perut rakyat semua. Rakyat sudah sepantasnya menjadi
prioritas utama dalam proses kesejahteraan bukan malah
menteri-menterinya yang pergi seenaknya ke luar negeri dengan duit
negara? Apakah ini yang dibilang demokrasi, pak? Dimana ketegasan dan
komitmen bapak untuk menghapus segala bentuk kesusahan masyarakat?
Pak SBY yang dirahmati Allah
Sekaya-kayanya kepala negara itu
punya komitmen kuat untuk menyejahterakan rakyatnya. Rakyat ingin
melihat dan berjumpa, atau bahkan bertatap langsung di daerah-daerah
mereka dengan seorang SBY. Tetapi kenapa rakyat hanya bisa menonton di
televisi ketika Pak SBY cipika-cipiki dengan presiden dan perdana
menteri negara lain? Kenapa rakyat hanya disuhuhi pemandangan tak elok
yang membuat rakyat geram dan seperti dianaktirikan oleh bapak
negaranya sendiri? Apakah bapak mengerti tentang itu? Pak, kehidupan
masyarakat sosial di negeri yang bapak pimpin, juga rasa-rasanya tidak
mengalami banyak kemajuan. Masih banyak pak, rakyat yang tidak bisa
membeli nasi hanya karena harga kebutuhan pokok yang melampau jauh dari
isi kantong yang mereka punya. Masih banyak pak, anak-anak yang tidak
bisa melanjutkan sekolah karena tidak punya biaya, atau biaya masuk
sekolah yang mencekik Wong Cilik. Beasiswa sekolah yang digadang-gadang
pak menteri pendidikan tidak ‘pure’ menjangkau pelosok-pelosok negeri
ini. Masih saja saya melihat ditayangan televisi yang mempertontonkan
betapa primitifnya calon-calon generasi muda bangsa Indonesia. Pak,
boleh percaya boleh tidak, beberapa bulan yang lalu saya pernah menonton
acara di Trans7 yang acaranya bernama “Indonesiaku”. Ya, Allah.. saya
sangat tidak habis pikir pak, ketika reporter Trans7 mendatangi sekolah
di pelosok sulawesi (sulawesi mana, lupa saya pak) Apa yang terjadi di
sana pak? Anak-anak untuk menjangkau sekolahnya saja butuh beberapa
kilometer, bahkan hingga melewati dan menyebrang belasan aliran sungai
yang sangat deras. Hal itu masih mending, coba bapak bayangkan, pak,
ketika reporter Trans7 mencoba menjadi guru ajar di kelas mereka dan
menayakan; ” Gambar siapa ini, adik-adik?” (kala itu gambar bapak)
Dengan lantang mereka menjawab keras; “Bupatiiiiiii” Detik itu juga,
saya langsung memukul tembok kamar dengan tangan kepal saya, dan ingin
menjerit sekeras mungkin kepada siapapun pemimpin negeri ini termasuk
bapak, yang seperti “bisu” dan tak mau tahu akan hal mengenaskan ini.
Ya, Tuhan.. saya setelah menontonvacara itu, jujur saya menetaskan
airmata, pak. Betapa tidak? Saya yang tinggal di kota Jepara saja sudah
agak mendingan dari pengetahuan tentang kepala bangsa ini, tapi
ternyata masih banyak saudara-saudara saya yang tidak pernah tahu,
siapa itu presiden RI.
Pak, SBY yang semoga sehat selalu,
Saya tahu, bangsa ini tidak bisa
lepas dari politik. Tetapi politik yang bagaimana pak? Bukankah politik
yang diserukan bapak beberapa waktu yang lalu, politik yang bersih,
jujur, dan mengedepankan rakyat? Namun mengapa tidak sesuai yang rakyat
rasakan. Menteri bapak saja, yang dahulu menggembar-gemborkan; Lawan!
Saat ini malah mendekam di jeruji besi. Bapak saja yang beberapa aktu
yang lalu mengatakan; tidak! Tapi ternyata sampai sekarang masih saja
ada anak buah bapak yang mengatakan; iya! Ini sangat tidak manusiawi
bagi rakyat pak. Rakyat seperti terbodohi dengan janji-janji anak buah
bapak. Untungnya rakyat sekarang sudah pintar menganalisis siapa “dia”
para bedebah-bedebah negeri ini. Rakyat sudah pandai menilai siapa yang
benar-benar bekerja untuk rakyat, dan siapa yang hanya bekerja untuk
kepuasan batin saja. Ah, rasanya sungkan pak jika saya berbicara
korupsi. Satu karena bosan dengan kata itu. Dua karena muak dengan para
pemakan bangkai saudaranya sendiri. Pak SBY yang dicintai rakyatnya,
saya tahu bapak punya satu mimpi untuk membersihakn bangsa ini dari
penjajahan anak-cucunya sendiri. Saya pun tahu bapak punya banyak
“plan” untuk memajukan negeri ini menjadi negeri yang berpegang teguh
pada norma dan kaidah. Namun melihat peristiwa politik yang terjadi di
negeri ini, sepertinya “plan” yang bapak gadang-gadangkan itu tak
terlihat. Di mana ya pak?. Pak SBY, menjadi pemimpin yang adil itu
tidak mudah, saya tahu itu pak. Memimpin Indonesia yang luasnya sangat
besar juga amat sulit. Namun saya sangat berharap, bapak mampu bersikap
tegas terhadap para pelaku kejahatan politik. Kalau perlu jika
terbukti salah dihukum mati saja pak, atau dibuat miskin saja. Ya,
barangkali bapak akan keras mengatakan kepada saya bahwa hukuman mati
bagi para bedebah menyalahi Hak Asasi Manusia. Mungkin jawaban itu
sudah pasti bapak jawab tanpa mengetahui alasannya terlebih dahulu.
Menengok di negera tetangga, Cina. Kenapa dia bisa menjatuhi hukuman
mati? Bukan karena di sana menganut paham komunis, bukan karena mereka
tidak punya ketetapan hukum mengenai HAM, bukan juga karena Cina
agamanya tidak kuat. Ketiga alasan itu lawas pak. Kuno. Yang
sebenarnya, bahwa kenapa Cina bisa mengambil keputusan menghukum mati
bagi pelaku kejahatan politik; satu… Karena mereka punya ketegasan dan
kebijakan yang berani! Berani!
Pak SBY yang rakyat patuhi,
Rakyat adalah fondasi atas
kontruksi istana bernama Indonesia. Jika fondasinya itu kuat, dan
menggunakan bahan berkualitas tentu istana tersebut fondasinya tidak
akan pernah murka apalagi berani meruntuhkan bangunannya sendiri. Pak,
rakyat tahu bapak seorang seniman ulung yang pandai menciptakan
lirik-lirik lagu. Rakyat juga tahu bapak telah banyak mendapat
penghargaan dari dunia luar. Rakyat juga tahu bapak sekarang sering
berbicara di dunia maya. Rakyat tahu bahwa Ibu Ani hobinya memotret.
Rakyat tahu bapak telah mempunyai menantu dan cucu yang cantik dan
tampan-tampan. Rakyat tahu bapak dan sekeluarga tidak pernah rekreasi.
Rakyat tahu bapak akan melepaskan jabatan Presiden. Rakyat tahu bapak
menjadi palang pintu Partai bapak. AH, Rakyat kira semua itu tidak
butuh banyak membicakan apa yang telah bapak miliki sejauh ini. Rakyat
hanya butuh pemimpin yang pro-rakyat, tegas, adil, jujur, amanah,
tablig, fatanah. Itu saja pak!
Wassalamualaikum wr.wb
Atas Nama Rakyat
Aji Sutrisno




TAMPILANNYA MENARIK MAS
Repetisi rakyat tahunya itu yang saya suka mas, luar biasa, saya sangat tersentuh dengan surat ini, saya ingin membacanya lagi dan lagi.....terutama pada bagian
Menteri bapak saja, yang dahulu menggembar-gemborkan; Lawan! Saat ini malah mendekam di jeruji besi. Bapak saja yang beberapa aktu yang lalu mengatakan; tidak! Tapi ternyata sampai sekarang masih saja ada anak buah bapak yang mengatakan; iya! Ini sangat tidak manusiawi bagi rakyat pak. Rakyat seperti terbodohi dengan janji-janji anak buah bapak.