Semilir angin pagi berhembus membawa
kesejukan. Cercah mentari menembus sela-sela ventilasi. Pentas orkestra tersaji
antara burung dan dedaunan—burung
sebagai pengiring dedaunan yang menari-nari, syahdu sekali. Jarum jam terus berputar,
tetapi tabir misteri belum terungkap. Kisah yang barangkali klise, terangkut
dalam biduk rumahtangga anak manusia. Panggil saja aku Rina, wanita paruhbaya, berkaca
mata nan paras biasa saja, bersuamikan pria blesteran jawa-arab, aku
memanggilnya Mas Yusuf.
Pagi ini, entah mengapa, mataku
tertuju pada sebuah foto pengantin di samping hourglass yang tak henti-hentinya
menuangkan butir pasir. Hourglass cantik nan mungil pemberian Mas Yusuf, tepat
setelah kami mengikrarkan janji suci. Tanda tanya besar kembali menggugah
ingatanku. Ya, tak terasa hampir lima tahun kami berumahtangga. Mungkin aku
bahagia karena pernikahan ini mampu bertahan cukup lama. Namun di satu sisi keadaan
itu justru menambah luka batinku. Bagaimana tidak. Wanita mana yang hatinya
tetap tenang sementara ia belum juga dipanggil dengan sebutan ibu. Wanita mana
yang tak tercabik-cabik hatinya karena belum sempurna menjadi seorang istri.
Dan wanita mana yang tak khawatir terhadap kesabaran suaminya yang sekian lama
hanya menanti dan menanti. Jelasanya, sampai sekarang aku belum juga hamil.
Jangankan mengandung, tanda-tandanya pun nihil. Dokter memvonis-ku terkena endometriosis—sejenis kemandulan. Tetapi kami tetap
tidak percaya tentang vonis itu. Ikhtiar telah kami lakukan agar bisa
mendapat keturunan. Bahkan aku pernah meminta Mas Yusuf untuk memilih jalan
pintas, yakni fertilisasi in vitro, atau yang biasa disebut bayi tabung,
namun entah mengapa ia tegas menolak. Sebagai seorang istri yang wajib taat
pada perintah suami, aku pun menuruti.
Bayang-bayang menimang, menyusui, hingga memandikan bayi selalu terlintas dalam pikirku. Entah sampai kapan aku mampu bertahan dengan keadaan ini. Sementara teman-temanku yang baru dua tahun menikah sudah memiliki anak, bahkan lebih dari satu. Terkadang aku merasa iba kepada Mas Yusuf yang selalu senang apabila dipertemukan dengan anak kecil. Keceriaan Mas Yusuf tiap kali bertemu dengan anak kecil seakan merobek-robek batinku. Tak jarang ketika dalam kesempatan Mas Yusuf menggendong anak kecil, aku meminta izin kepadanya dengan dalih buang air kecil ke toilet, padahal sebenarnya aku menyeka air mata yang untuk kesekian kalinya tumpah. Hampir saban malam aku pura-pura terlelap, lantaran aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memandang wajah teduh suamiku—sembari mengucap beribu-ribu rasa syukur pada Allah karena sudah menghadirkan suami yang sangat penyayang, penyabar dan mau menerima banyak kekuranganku.
Kepiluan ini bertambah pelik ketika ibu
mertua yang dahulu sangat mengasihiku, kini berubah drastis. Mama, aku biasa
memanggilnya, sekarang jarang atau bahkan tak pernah menjengukku. Berbeda
ketika usia pernikahan kami baru sebulan, hampir pasti mama selalu menyempatkan
diri datang ke rumah. Tak sebatas itu, saat ada pertemuan keluarga pun mama terlihat
sinis. Raut yang dahulu sumringah setiap bertemu menantunya, seakan berubah
seratus delapan puluh derajat. Benakku bertanya-tanya, apa sikap mama berubah
karena aku belum memberinya seorang cucu?
Aku pendam hingga ke dasar relung pertanyaan
itu. Untuk sekian kalinya aku memilih menanyakan semua kegusaranku kepada Sang Khaliq.
Aku gencar meminta Pada-Nya sampai kapan pun. Aku tak akan berhenti. Aku tak
mau menyerah. Karena Ia tak mungkin menguji melebihi batas kesanggupan
hamba-hambanya.
* * *
Malam itu, setelah sholat maghrib, aku memberanikan diri untuk menanyakan lagi perihal rasa cinta Mas Yusuf terhadapku.
“Engkau masih cinta aku, ‘kan, Mas?” tanyaku pelan, seraya menatap sayu mata Mas Yusuf.
“Kok mama ngomong gitu, sih,” jawab
Mas Yusuf disertai panggilan sayangnya padaku. Ia tampak terkejut.
“Mas, lima tahun sudah kita menjadi
pasangan kekasih. Tetapi sampai sekarang aku belum juga memberimu buah hati. Sebagai
seorang istri, rasanya aku gagal menjadi apa yang Mas harapkan. Aku tak sanggup
lagi membendung rasa bersalah di kala melihatmu begitu girang setiap bertemu
dengan anak kecil. Kini aku rela jika engkau memaduku. Aku ikhlas, Mas ….”
“Sttttt ... Ma, engkau ini ngomong
apa, sih. Gak ngerti, deh.”
“Mungkin ini adalah jalan satu-satunya
agar engkau bisa bahagia, Mas.”
“Ma, jujur sedari tadi aku sengaja
tak lekas menanggapi keluhmu. Sebab sampai sekarang aku tak pernah menuntut
akan hal itu. Aku menikahimu karena Allah. Lagi pula, mendapat keturunan
bukanlah tujuan utama aku menikahimu. Justru aku bersyukur memiliki istri yang
pandai membuat hari-hari berwarna, sepertimu.”
“Tapi bukannya Mas dulu pernah bilang
ingin cepat menimang bayi yang lahir dari rahimku di awal pernikahan kita.
Ingat, ‘kan, Mas?”
“Ya, aku ingat, namun kemudian aku
ralat, karena aku tahu keinginanku untuk cepat memiliki anak dari rahimmu tak
bisa sertamerta terwujud. Ma, mengertilah … aku tidak akan pernah meninggalkanmu.
Mungkin menikah lagi dengan wanita lain akan membuatku memiliki keturunan, tapi
bukankah aku sama saja dengan pria bejat di sana yang menikah hanya untuk
kepuasan nafsu semata? Dan bukankah aku terlalu angkuh meninggalkanmu begitu
saja yang setia menemaniku selama lima tahun lamanya?”
“Masss …,” sanggahku pelan dengan
butiran kristal yang mulai jatuh.
“Ma, percayalah … kesabaran kita akan
membuahkan hasil. Allah tidak pernah tinggal diam terhadap hambanya yang terus berusaha
mempertahankan kecusian pernikahannya, seperti kita ini. Cepat atau lambat kita
akan mengunduh buah-buah kesabaran itu. Dan mungkin akan ada kejutan yang
sebelumnya tak pernah mama bayangkan dari Allah suatu saat nanti.”
Aku tak kuasa berkata-kata, selain bergegas memeluk erat Mas Yusuf. Deraian air mataku mengucur deras membasahi bajunya. Aku merasakan kenyamanan yang begitu besar. Lega bercampur senang mengetahui rasa cinta suamiku yang ternyata tak berkurang sedikit pun.
* * *
Pagi harinya Mas Yusuf mengajakku ke
suatu tempat. Kali ini bukan dokter spesialis kandungan yang biasanya kami
datangi untuk sekadar konsultasi. Lelaki agak tua dengan perawakan tinggi,
berpeci, dengan brewok yang lumayan lebat, mempersilahkan kami untuk duduk di
sebuah kursi. Suamiku memanggilnya, Habib. Latar-belakang suamiku yang
keturunan jawa-arab memang membuatku mengerti bahwa ini adalah bagian dari
ikhtiar dia dengan meminta taklimat dari orang tersebut.
Setelah cukup lama berbincang, akhirnya
kami pun pulang. Pulang dengan membawa seberkas saran yang Habib anjurkan demi
melancarkan proses mendapatkan keturunan. Saran itu sangat kontas dengan
dokter-dokter kandungan yang pernah kami sambangi. Habib hanya menyarankan kami
untuk lebih rutin sholat tahajud seraya terus berdoa kepada Allah.
Bagi aku dan Mas Yusuf, sholat tahajud
bukanlah hal baru. Di awal pernikahan, hampir tak pernah lalai meninggalkannya.
Hanya kadang rasa lelah dan seringnya Mas Yusuf pulang larut malam, membuat
kami sering alpa menemui-Nya di sepertiga malam. Kini sudah sebulan kami
menunaikan sholat tahajud. Entah mengapa doa kami belum juga terkabul. Pada
saat itu, kesabaran kami benar-benar diuji. Namun saling menguatkan membuat
kami semakin dewasa dan terasa ringan menghadapi cobaan ini.
* * *
“Karena
sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya setelah
kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyrah: 5-6)
Tiga bulan kemudian, secercah cahaya
mulai tampak di tengah gulita. Lilin-lilin kecil menepis kekelaman. Awalnya kepala
pusing, perut mual, hingga muntah berkali-kali. Melihat kondisi tersebut, Mas
Yusuf membawaku ke RS terdekat. Aku diperiksa di dalam ruangan khusus,
sementara bermunajat terus kulantunkan.
“Selamat, ya, Bu Rina atas
kehamilannya,” tutur dokter Felyn penuh
simpul.
“Apa, dok, hamil?!” tanyaku, seolah
tak percaya.
“Yang benar, dok?” Hampir bersamaan,
Mas Yusuf juga bertanya.
“Iya, hamil.”
Mendengar dokter Felyn meng-iya-kannya,
sontak kami pun sujud syukur. Haru, tangis, bahagia, bercampur jadi satu karena
yang dinanti akhirnya terwujud.
* * *
Hari demi hari berlalu. Bunga kebahagiaan
bermekaran di hampir tiap waktu. Kini usia kandunganku menginjak delapan bulan.
Artinya sebentar lagi bayi yang ditunggu-tunggu akan lahir. USG
menunjukkan bahwa kami insyaAllah dianugerahi anak laki-laki. Mas Yusuf
senangnya bukan kepalang—sebab
dari dulu dia memang mengharapkan anak laki-laki. Katanya, biar bisa menjaga
mamanya ketika papanya pergi. Harapan Mas Yusuf untuk memiliki anak yang paham
dan punya kecintaan penuh terhadap agama, membuatnya rutin membacakan ayat-ayat
Alquran di depan kandunganku.
Tak ada hujan tak ada angin, Mas Yusuf
tiba-tiba pamit ingin pergi. Bilangnya ada keperluan mendadak yang tak bisa
ditunda. Aku sedikit curiga. Sebab selama ini Mas Yusuf selalu lebih dulu
memberi tahu, selalu terbuka kepada istrinya. Apa dia akan memberi kejutan
untukku seperti kebiasaannya selama ini? Entahlah ...
“Kriiiiiiiiingg … kriiiiiingg …
kriiiiiingg …,” nada panggilan keras terdengar dari hp-ku.
“Assalamualaikum … dari siapa ini?”
jawabku gusar karena nomor yang tertera belum ada namanya.
“Waalaikumsalam … dari RS. Kartini
Jepara. Apa benar ini ibu Rina, istri pak Yusuf Al Zakaria?”
“Iya, benar, ada ya Bu?”
“Yang sabar, ya, suami ibu mengalami
kecelakaan. Dan sekarang ada di ICU RS. Kartini Jepara. Mohon ibu segera
ke sini!”
Sontak tanpa pamit aku langsung tutup
percakapan. Jantungku berdebar sangat kencang. Pikiran berkecamuk.
Namun aku berusaha tenang agar dede bayi tetap nyaman. Tuhan cobaan apalagi
ini?
* * *
Singkat cerita, beberapa menit
kemudian aku sampai di ruang di mana Mas Yusuf berada. Tapi apa yang terjadi?
Yang terlihat hanya sehelai kain putih panjang menutupi badan Mas Yusuf. Saat
itu aku benar-benar tak kuat lagi menerima kenyataan. Aku peluk dia yang
kucintai, tapi kaku. Aku teriak memanggilnya, dia diam saja. Aku mencoba meraih
tangannya untuk mengelus anaknya, tapi tak dia bergerak sedikit pun. Aku tak
percaya Mas Yusuf pergi secepat ini di kala impiannya menggendong anak sebentar
lagi terwujud. Mama, papa, sanak saudara, tak henti menguatkanku. Namun tetap
saja semua ini tak bisa sekejab aku terima. Hingga hujan air mata mengiringi jasad
seorang yang begitu tulus mencintaiku, suami yang tak pernah marah, sosok imam
yang sangat penyabar ke liang lahat.
Kehidupan ini memang semu. Fana. Mungkin percuma bila aku terus-terusan menangisi kepergian Mas Yusuf sementara mustahil dia kembali. Aku menyadari bahwa aku harus tegar. Kuat. Ikhlas akan takdir ini. Walaupun nantinya hanya seorang diri mengasuh dan mendidik anaknya. Tanpa ada yang menemani. Sekujur badanku terasa lelah … lelah sekali … hingga mama menyuruhku untuk istirahat saja di kamar. Sesaat sebelum kurebahkan badan, aku dikejutan dengan selembar kertas putih di atas tas hitam Mas Yusuf. Terpampang tulisan besar; “Man Shobaro Dhofiro” di depannnya. Penasaran lalu aku membukanya. Dan ternyata surat itu dari Mas Yusuf. Kemudian dengan berat hati aku membacanya …
Kehidupan ini memang semu. Fana. Mungkin percuma bila aku terus-terusan menangisi kepergian Mas Yusuf sementara mustahil dia kembali. Aku menyadari bahwa aku harus tegar. Kuat. Ikhlas akan takdir ini. Walaupun nantinya hanya seorang diri mengasuh dan mendidik anaknya. Tanpa ada yang menemani. Sekujur badanku terasa lelah … lelah sekali … hingga mama menyuruhku untuk istirahat saja di kamar. Sesaat sebelum kurebahkan badan, aku dikejutan dengan selembar kertas putih di atas tas hitam Mas Yusuf. Terpampang tulisan besar; “Man Shobaro Dhofiro” di depannnya. Penasaran lalu aku membukanya. Dan ternyata surat itu dari Mas Yusuf. Kemudian dengan berat hati aku membacanya …
“Duhai Istriku, yang sebentar lagi akan dipanggil dengan sebutan, Mama. Terima kasih selama lima tahun ini telah ikhlas menjadi pelayanku. Aku tak bisa pungkiri bahwa aku sangat bersyukur punya bidadari yang sangat tegar sepertimu. Lima tahun berkutat dengan vonis endometriosis, di tengah tekanan keadaan yang menyudutkan hati, kolega yang selalu menggoda, ternyata tak meluruhkan imanmu. Aku belajar banyak dari ketegaranmu.Duhai Istriku, yang sebentar lagi mengunduh buah-buah kesabarannya. Jaga baik-baik, ya, anak kita, didik dan asuh dia selembut mungkin. Bekali dia ilmu agama agar kelak dia menjadi insan yang taat kepada Tuhan-Nya. La tahzan istriku … Allah selalu bersamamu. Dan seandainya kesendirian membuatmu sepi, menikahlah dengan pria yang pantas untuk menjadi penggantiku. Tapi aku hanya minta, terimalah pria yang mau menerima anak kita, menyayangi, memperlakukan sebagaimana anaknya.Duhai istriku, jangan khawatir, bila memang Allah menakdirkan kita untuk bersatu, insyaAllah kelak kita akan bertemu di tempat yang terindah. Yakinlah bahwa kesabaran akan menghantar kita pada suatu kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan dengan penuh Cinta-Nya, cinta yang hakiki.”
Entah cerita apa yang hendak Allah
rencanakan kepadaku. Bertubi-tubi cobaan mendera. Tenagaku hampir habis.
Kini yang dibilang Mas Yusuf bahwa akan ada kejutan yang tak pernah terbayangkan
seolah benar terjadi. Aku kehilangannya di saat anaknya belum melihat dunia. Aku
kehilangannya di kala aku butuh bimbingan untuk mendidik anak ini.
* * *
Sebulan kepergian Mas Yusuf. Sembilan bulan
pula usia kandunganku. Duka masih hinggap di dinding relung. Bayang-bayang akan
Almarhum belum beranjak. Dalam meniti hari tanpanya, aku bersyukur karena ada mama
yang kini mulai menyayangi, menemaniku kembali. Surat terakhir Almarhum tak bosan-bosannya
kubaca. Kalimat demi kalimat selalu kuresapi. Termasuk restu Almarhum jika aku
menikah lagi. Tetapi beribu-ribu kali kuenyahkan
keinginan itu. Aku lebih memilih hidup berdua dengan anakku. Aku tetap memegang teguh
rasa setiaku pada Almarhum, sampai kapan pun.
Jepara,
9 April 2014



