Seorang pemuda tampan berjalan gontai dengan mimik muka sayu. Bajunya lusuh penuh sayatan di beberapa bagian punggung. Sepertinya ia baru saja jadi korban perampokan. Bibirnya pecah-pecah dan mulutnya menganga. Tampak ia sangat kehausan.
Dari kejauhan pemuda tampan itu melihat seorang kakek renta berteleku. Langkah kakinya terhuyung-huyung yang memang terlihat amat senja. Kemudian pemuda tampan itu menghampiri dan bertanya ...
"Maaf, kek, saya haus sekali. Di mana ada sumber air di dekat hutan ini?" tanya pemuda tampan.
"Berjalan terus ke arah timur anak muda, kau akan menemukan sumber air di sebuah Telaga nan indah," saut kakek renta itu.
"Oh, terima kasih, kek!"
Kakek renta hanya mengangguk, dan seketika memberanjakkan tongkatnya ke depan, meninggalkan pemuda itu.
***
Sampailah pemuda tampan itu pada sebuah Telaga. Ia takjub. Seolah rasa haus dan sakit di sekujur tubuhnya sirna setelah melihat Telaga nan asri. Pandangannya tertuju pada air yang jernih, tenang, hening, dan pada sebuah sampan yang bersandar di tepian Telaga, dengan dua kursi kayu reot yang seakan membuang habis hausnya akan air.
Lantas, pemuda tampan itu berjalan ke tepian Telaga untuk menjemput air. Karena jernih airnya bagai kaca, gangga-gangga hijau pun bisa terlihat jelas meski di dasar. Tak hendak berpikir panjang. Ia seketika memautkan kedua tangan untuk menadah airnya. Tapi sontak, ia membuang kembali air itu. Ia amat kaget dan tak menyana, bahwa air yang terlihat jernih di mata ternyata keruh setelah terangkat.
Tanpa diketahuinya, kakek renta yang tadi memberi tahu bahwa ada sumber air di Telaga ini, tiba-tiba menepuk punggungnya seraya berkata;
***
Sampailah pemuda tampan itu pada sebuah Telaga. Ia takjub. Seolah rasa haus dan sakit di sekujur tubuhnya sirna setelah melihat Telaga nan asri. Pandangannya tertuju pada air yang jernih, tenang, hening, dan pada sebuah sampan yang bersandar di tepian Telaga, dengan dua kursi kayu reot yang seakan membuang habis hausnya akan air.
Lantas, pemuda tampan itu berjalan ke tepian Telaga untuk menjemput air. Karena jernih airnya bagai kaca, gangga-gangga hijau pun bisa terlihat jelas meski di dasar. Tak hendak berpikir panjang. Ia seketika memautkan kedua tangan untuk menadah airnya. Tapi sontak, ia membuang kembali air itu. Ia amat kaget dan tak menyana, bahwa air yang terlihat jernih di mata ternyata keruh setelah terangkat.
Tanpa diketahuinya, kakek renta yang tadi memberi tahu bahwa ada sumber air di Telaga ini, tiba-tiba menepuk punggungnya seraya berkata;
"Wahai anak muda! Belajarlah dari air yang hendak kaucari dan kauteguk itu. Bahwa segala sesuatu tak mampu hanya kaulihat dari luarnya saja. Mungkin air di Telaga ini benar terlihat jernih dan bersih oleh mata. Tetapi hanya sebatas mata! Mata! Kau tak tahu bagaimana adanya. Sekali lagi, dengarlah, anak muda ... Hatimu adalah hatimu, matamu adalah matamu, apapun yang kaurasa dan kaulihat ialah wujud daripada jiwamu"
Terenyuh. Seketika pemuda tampan itu merengkuh badan kakek renta. Seakan baju kakek yang sedari dulu lusuh, jadi tambah lusuh dengan bercak serta noda-noda buah sesalnya.
Bumi Kartini, 26 Juni 2013
Aji Sutrisno





mengalir, penuh makna.....
mampir ke blog sy bang: intermezo33.blogspot.com
salam