![]() |
Saya
yakin nahkoda dan awak kapal sudah berusaha penuh. Setidaknya mengantisipasi
hal-hal terburuk yang tidak diinginkan. Terutama menenangkan penumpangnya untuk
tetap tenang, agar tak panik. Sia-sia, kapal yang tinggi besar dengan ratusan
kilogram bobotnya itu, sedikit demi sedikit kabin bawah sudah mulai retak.
Memang belum sepenuhnya terbelah, membuat saya mau tidak mau harus bertaruh
nyawa. Dengan rasa takut yang luar biasa bila kapal ini akan terbelah nantinya,
membuat akal gila saya seakan muncul. Saya memberanikan diri untuk menghampiri
sang nahkoda dan awak kapal di kabin depan. Dengan maksud memberi suatu usulan
jalan tengah agar kapal ini mampu terselamatkan.
Jarak
kabin tengah dengan kabin depan cukup jauh, ditambah keadaan kapal yang terus
goyah, membuat langkah saya sedikit tersendat dan tak sepenuhnya lancar untuk
menemui sang nahkoda dan awak kapal. Syukur, sampailah saya di kabin depan,
tanpa berpikir panjang saya memberanikan diri untuk mengusulkan saran saya atas
kapal ini. Ironi, sang nahkoda berserta awak malah bertengkar sendiri, saling
maki, saling menyalahkan, hingga jual beli omongan.
"Ini
salahmu! kaulupa mengecek mesin kapal. Lihat sekarang, mesinnya tak mau
bergerak cepat," sang nahkoda menyalahkan awaknya karena menganggap mesin kapal
lupa di-cek.
"Apa
kaubilang? Aku sudah mengecek seluruh mesin, malah lima jam sebelum berangkat.
Ah, ini salahmu, coba saja kauputar balik kapalnya tadi, mungkin tak sampai
begini," saut awak yang juga menyalahkan sang nahkoda.
"Haaahhh
... Sudah! Cukup! Anda itu nahkoda dan awak kapal, harusnya saling menyatu;
punya tujuan sama, juga berpikir bagaimana menyelamatkan penumpang! Bukan malah
egois, saling menyalahkan seperti ini!" dengan berat hati saya terpaksa
memotong percek-cokan mereka. Tanpa memandang bahwa dia seorang nahkoda dan
"Tapi
yang harusnya bertindak penuh ya, nahkodanya, dong?" sang awak mulai
menyalahkan nahkoda lagi.
"Loh,
tak bisa begitu, dong! Tugas nahkoda hanya mengendalikan kapal, kalau mesin dan
keadaan kapal, ya, tugas awak!" kembali, sang nahkoda melempar celetukan
ke awak kapal.
*
* *
Tak
henti-hentinya mereka berdua terus bertikai, saling melacurkan keyakinan
sendiri tanpa memikirkan keselamatan penumpang membuat buntu akan jalan keluar.
Sungguh, sebagai imbas dari percek-cokan mereka, membuat retakan pada kabin
tengah kapal semakin lebar. Bahkan kabin depan dan belakang tak lagi seimbang.
Keduanya saling condong ke bawah, bahkan
dan cepat atau lambat mungkin akan segera tenggelam.
Saya
tak mampu berbuat apa-apa kala itu, selain terus meminta pada Tuhan untuk
jangan menimpakan musibah pada kapal ini terlebih dahulu. Terkhusus bagi saya
yang menyesal bila nantinya seluruh penumpang akan mati. Dan mungkin saya
adalah orang pertama yang akan mengembuskan napas terakhir, karena pada
kenyataannya saya tak cukup lihai berenang. Praktis hanya terus meminta pada
Tuhan, supaya tak melahap nyawa saya terlalu dini.
Hingga
segala doa dan usaha yang sedari tadi saya perbuat, hanya sia-sia. Karena
Takdir Tuhan telah datang dan menghantam dengan keras, menjadikan kapal
terbelah dua dengan ringannya. Menjadikan sang nahkoda, awak, juga penumpang
(saya) berserakan di tengah samudera. Tubuh kita tak lagi satu tempat ketika
masih di dalam kapal, tetapi telah terpisah menjadi keping-keping ego, tergoyah
ke sana-ke sini bebas arah, laksana butir-butir pasir di tepian pantai.
Kini,
saya terdampar dalam pulau yang sepi, bukan lagi ramai seperti saat masih di
dalam kapal yang bernyaman-nyaman dengan penuh kerling pemandangan. Namun
sekarang saya tak lebih hanya sebongkah karang yang hidup disusutnya air laut,
berbaur dengan ikan-ikan lapar, bercengkrama dengan deru angin pasat, pun debur
ombak yang memelan.
*Catatan:
-Kapal : Anologi sebuah rumah tangga.
-Nahkoda : Analogi seorang Ayah/Bapak.
-Awak : Analogi seorang Ibu/Bunda.
-Penumpang : Analogi seorang Anak (saya).
-Terbelah : Perceraian.
*Sumber Gambar: detikislam.com





Maaf bila cerita di atas mengganggu mata Anda.