Rabu, 15 Januari 2014

Bahtera yang Terbelah

,

Dua bulan yang lalu, sebuah kapal yang saya tumpangi terbelah, tampaknya dia tak kuat lagi menahan terpaan badai yang begitu dahsyat. Pada malam itu, saya duduk di kabin tengah sebagai penumpang. Seperti biasa, nahkoda dan awak duduk di kabin paling depan. Dalam dermaga tempat pertama saya menaiki kapal, rasanya tak ada firasat apa-apa. Naik, duduk, tidur, makan, pun melihat pemandangan indah laut juga saya lakukan. Tetapi entah kenapa, ketika nyaman-nyamannya saya di dalam kapal, ternyata kapal itu tiba-tiba mulai goyah tepat di tengah samudera; kursi, meja berserakan kemana-mana, pun tangan saya yang berusaha kuat mencengkeram di sebuah tiang penyangga, ternyata tak mampu menopang. Akhirnya saya pun terpelanting.

Saya yakin nahkoda dan awak kapal sudah berusaha penuh. Setidaknya mengantisipasi hal-hal terburuk yang tidak diinginkan. Terutama menenangkan penumpangnya untuk tetap tenang, agar tak panik. Sia-sia, kapal yang tinggi besar dengan ratusan kilogram bobotnya itu, sedikit demi sedikit kabin bawah sudah mulai retak. Memang belum sepenuhnya terbelah, membuat saya mau tidak mau harus bertaruh nyawa. Dengan rasa takut yang luar biasa bila kapal ini akan terbelah nantinya, membuat akal gila saya seakan muncul. Saya memberanikan diri untuk menghampiri sang nahkoda dan awak kapal di kabin depan. Dengan maksud memberi suatu usulan jalan tengah agar kapal ini mampu terselamatkan.

Jarak kabin tengah dengan kabin depan cukup jauh, ditambah keadaan kapal yang terus goyah, membuat langkah saya sedikit tersendat dan tak sepenuhnya lancar untuk menemui sang nahkoda dan awak kapal. Syukur, sampailah saya di kabin depan, tanpa berpikir panjang saya memberanikan diri untuk mengusulkan saran saya atas kapal ini. Ironi, sang nahkoda berserta awak malah bertengkar sendiri, saling maki, saling menyalahkan, hingga jual beli omongan.

"Ini salahmu! kaulupa mengecek mesin kapal. Lihat sekarang, mesinnya tak mau bergerak cepat," sang nahkoda menyalahkan awaknya karena menganggap mesin kapal lupa di-cek.

"Apa kaubilang? Aku sudah mengecek seluruh mesin, malah lima jam sebelum berangkat. Ah, ini salahmu, coba saja kauputar balik kapalnya tadi, mungkin tak sampai begini," saut awak yang juga menyalahkan sang nahkoda.

"Haaahhh ... Sudah! Cukup! Anda itu nahkoda dan awak kapal, harusnya saling menyatu; punya tujuan sama, juga berpikir bagaimana menyelamatkan penumpang! Bukan malah egois, saling menyalahkan seperti ini!" dengan berat hati saya terpaksa memotong percek-cokan mereka. Tanpa memandang bahwa dia seorang nahkoda dan

"Tapi yang harusnya bertindak penuh ya, nahkodanya, dong?" sang awak mulai menyalahkan nahkoda lagi.

"Loh, tak bisa begitu, dong! Tugas nahkoda hanya mengendalikan kapal, kalau mesin dan keadaan kapal, ya, tugas awak!" kembali, sang nahkoda melempar celetukan ke awak kapal.

* * *

Tak henti-hentinya mereka berdua terus bertikai, saling melacurkan keyakinan sendiri tanpa memikirkan keselamatan penumpang membuat buntu akan jalan keluar. Sungguh, sebagai imbas dari percek-cokan mereka, membuat retakan pada kabin tengah kapal semakin lebar. Bahkan kabin depan dan belakang tak lagi seimbang. Keduanya saling condong  ke bawah, bahkan dan cepat atau lambat mungkin akan segera tenggelam.

Saya tak mampu berbuat apa-apa kala itu, selain terus meminta pada Tuhan untuk jangan menimpakan musibah pada kapal ini terlebih dahulu. Terkhusus bagi saya yang menyesal bila nantinya seluruh penumpang akan mati. Dan mungkin saya adalah orang pertama yang akan mengembuskan napas terakhir, karena pada kenyataannya saya tak cukup lihai berenang. Praktis hanya terus meminta pada Tuhan, supaya tak melahap nyawa saya terlalu dini.
           
Hingga segala doa dan usaha yang sedari tadi saya perbuat, hanya sia-sia. Karena Takdir Tuhan telah datang dan menghantam dengan keras, menjadikan kapal terbelah dua dengan ringannya. Menjadikan sang nahkoda, awak, juga penumpang (saya) berserakan di tengah samudera. Tubuh kita tak lagi satu tempat ketika masih di dalam kapal, tetapi telah terpisah menjadi keping-keping ego, tergoyah ke sana-ke sini bebas arah, laksana butir-butir pasir di tepian pantai.

Kini, saya terdampar dalam pulau yang sepi, bukan lagi ramai seperti saat masih di dalam kapal yang bernyaman-nyaman dengan penuh kerling pemandangan. Namun sekarang saya tak lebih hanya sebongkah karang yang hidup disusutnya air laut, berbaur dengan ikan-ikan lapar, bercengkrama dengan deru angin pasat, pun debur ombak yang memelan.

*Catatan:
-Kapal             : Anologi sebuah rumah tangga.
-Nahkoda        : Analogi seorang Ayah/Bapak.
-Awak              : Analogi seorang Ibu/Bunda.
-Penumpang    : Analogi seorang Anak (saya).
-Terbelah         : Perceraian.     

*Sumber Gambar: detikislam.com

Bumi Kartini, 26 Juli 2013

Aji Sutrisno

1 komentar:

Posting Komentar

 

Introvert Copyright © 2014 | Template design by Aji Sutrisno | Powered by Blogger Indonesia