Rabu, 26 Februari 2014

Bocah Tujuh Tahun Dikeluarkan Dari Sekolah Karena Bandel

,
1393038284888690357

JEPARA Amel (7) putri bungsu dari pasangan Anshori dan Cucun secara fisik sama seperti anak seusianya. Kulit sawo matang, rambut keriting, dan tinggi badan kurang lebih 130 cm. Keseharian Amel lebih banyak diisi dengan bermain sepeda warna merah merk phoenix yang dibeli bekas oleh ayahnya. Amel juga dikenal sebagai anak yang suka dengan kucing, terbukti setiap ada kucing yang berjalan dihadapannya tanpa berpikir panjang ia langsung mengambil bahkan memeluknya. Namun apakah pembaca pernah menyangka jika di balik keceriaan itu ada  kisah pilu yang harus diterimanya?

Pada umumnya anak usia tujuh tahun sudah layak mengeyam pembelajaran tingkat sekolah dasar. Selaku orangtua yang bertanggungjawab terhadap kelangsungan pendidikan anaknya, Anshori dan Cucun-pun sekitar 5 bulan yang lalu telah mendaftarkan Amel di SD yang tak jauh dari kediaman mereka. Namun apa yang terjadi. Belum sampai sebulan Amel belajar ia sudah diserahkan lagi kepada orangtuanya, dengan alasan anak tersebut  berperilaku bandel dan kurang baik. Hal itu dibuktikan dengan salah satu temannya sering menangis karena Amel. Ulah demi ulah sontak memancing jajaran guru terkait memanggil orangtua Amel datang ke Sekolah.

Singkat cerita, Amel akhirnya dikembalikan lagi kepada orangtuanya lantaran sebagian guru beranggapan bahwa ulah Amel sudah di luar batas kewajaran untuk anak seusianya dan sulit ditolerir lagi. Dengan sekuat hati, Anshori dan Cucun menerima nasib Amel yang kini tak bisa lagi sekolah di tempat dimana dua kakaknya pernah sekolah dulu.
Atas kejadian inilah saya selaku tetangganya mengaku prihatin dan menyayangkan kenapa kejadian tersebut bisa terjadi pada bocah usia tujuh tahun.  Saya menulis catatan ini karena saya ingin mempertanyakan, siapa yang harus bertanggungjawab? Langkah apa yang harus dilakukan agar tidak adalagi Amel, Amel berikutnya?

Menelisik Kisah Pilu Amel

Seperti kita ketahui bersama, anak merupakan satu aset penting bagi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan. Oleh karena itu, wajib bagi kita memperlakukan anak dengan baik sesuai hak-hak yang pantas ia dapatkan. Apalagi hak mendapatkan pendidikan. Berhak kiranya seluruh anak di Indonesia mendapatkan perlakuan pendidikan yang sama. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.39 tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia telah mencantumkan hak anak dalam memperoleh pendidikan yaitu pasal 60 ayat (1) dan (2) yang menyatakan (1) “setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya; sedangkan ayat (2) menyatakan “setiap anak berhak mencari, menerima, memberikan informasi sesuai dengan tingkat intelektualitas dan usianya demi pengembangan dirinya sepanjang sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan. Undang - undang yang mengatur tentang hak yang sama dalam memperoleh pendidikan juga tertera jelas dalam Pasal 5 Ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003 yang berbunyi: “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

13930446701056299088 

Berpedoman pada Undang - undang di atas, telah nyata bahwa semua Warga Negara Indonesia mempunyai peluang dan hak sama untuk mengeyam pendidikan tanpa ada satupun larangan serta pencegahan.

Perilaku Orangtua Mempengaruhi Perilaku Anak

13930517741255686512

Mengingat kasus Amel tidak hanya menyangkut aspek pendidikan saja, namun juga aspek keluarga. Kita ketahui pada dasarnya keluarga adalah proses sosialisasi pertama/primer (baca: sosiologi, Peter L. Berger dan Luckmann). Maka dari itu mampu kita simpulkan bahwa lingkungan keluargalah yang membentuk kepribadian; sikap, karakter, dan kebiasaan anak. Kebiasaan buruk orangtua seperti bertengkar di depannya, berlaku kasar kepada pembantu rumah tangga, terlalu mengekang, hingga terlalu banyak melarang, sangat mungkin membuat anak mengikutinya. Dr Lipscomb, mengatakan “Salah satu faktor penyebab perilaku buruk ternyata berasal dari gen,” seperti dilansir Daily Mail.  Pernyataan tersebut dapat kita teken bahwa orangtualah yang paling  fundamental menentukan kepribadian sang anak.

Langkah yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Perilaku Buruk Anak

Tidak ada orangtua yang tega melihat anaknya terkucilkan. Tidak ada orangtua yang rela anaknya tak punya teman bermain hanya karena bandel. Maka perlu kiranya orangtua mengantisipasi serta mengejawantah langkah-langkah tepat demi tertatanya kembali pola moral dan kepribadian yang sejalan dengan nilai dan norma yang berlaku.

Berikut adalah langkah yang bisa diterapkan dalam mengatur pola tingkah anak:

1. Penanaman Nilai Agama

Pengetahuan tentang agama tentang akhlak dan sikap sangat mempengarahui kepribadian setiap orang. Hal tersebut berlaku pula di lingkungan keluarga. Keluarga yang baik pasti mempunyai tatanan nilai-nilai agama yang baik. Begitu juga sebaliknya, bila suatu keluarga abai nilai-nilai yang telah diajarkan agama, besar kemungkinan berimbas pada keharmonisan keluarga, terkhusus anak.

2. Peka Terhadap Apa yang Sedang Dialami Anak

Terkadang anak mempunyai “masalah” di dalam lingkungan yang bisa saja ia sembunyikan. Dalam kondisi seperti inilah orangtua diharus lebih peka terhadap “masalah” apa yang sedang dialami anaknya. Dengan cara mencoba memecahkan “masalah” dan mencoba mentolerirnya.

3. Kontrol Lingkungan Anak

Di tengah semakin luasnya pengaruh globalisasi  memberikan dampak yang cukup beraneka bagi masyarakat. Contohnya teknologi. Pada saat ini teknologi sudah semakin canggih. Namun tentu banyak menimbulkan pengaruh bagi anak. Keluarga yang kurang memberi pengawasan kepada anak akan mudah si anak terpengaruh dunia luar. Sebab itu,  kontrol langsung ke lingkungan anak sangat perlu.

4. Berdamai dengan Cinta Kasih

Dalam Ilmu Sosiologi, keluarga mempunyai fungsi afektif. Fungsi Afektif ialah keluarga senantiasa memberikan cinta kasih antar sesama anggota keluarga, sehingga terjalinlah suatu ikatan batin yang kuat pada hubungan keluarga itu sendiri.
Dengan demikian, kasus Amel setidaknya memberi kita pelajaran akan pentingnya menjaga anak di tengah semakin majunya zaman. Keluarga dan Guru perlu bersama-sama memacu aset penting bangsa ini, demi Indonesia yang lebih baik lagi ke depan.

Jepara | 22.02.2014 | Aji Sutrisno

Referensi:

0 komentar to “Bocah Tujuh Tahun Dikeluarkan Dari Sekolah Karena Bandel”

Posting Komentar

 

Introvert Copyright © 2014 | Template design by Aji Sutrisno | Powered by Blogger Indonesia