Bagi saya, Kartini itu masih hidup. Dia
masih berupa seonggok nyawa berdaging layaknya manusia biasa, bisa
makan, minum bahkan juga mampu berjalan. Jika ada yang berkata Ibu
Kartini itu telah tiada, itu hanya orang-orang yang tak pernah menyadari
dan tak bisa menggunakan matanya dengan baik. Karna menurut saya, yang
dinamakan Kartini itu bukan nama yang diberikan Ayahnya saja, tetapi
Kartini adalah nama komunal yang bisa disandang bagi siapa saja yang
bergender “perempuan”. Tentu bukan sekedar perempuan biasa, melainkan
perempuan yang luarbiasa. Perempuan yang sekarang ini masih memasakkan
nasi buat saya; Perempuan yang saat ini masih setia saja dengan
pakaian-pakaian kotor; Perempuan yang selalu lebih dulu tidur daripada
saya, karna harus bangun pagi-pagi sekali.
Ini..inilah Kartini yang masih hidup itu, yang selalu saya sebut masih
hidup itu, sekarang masih diberi Tuan-Nya usia dan
kesehatan(barangkali). Memang ini bukan Kartini yang dikira orang
sebagai pejuang emansipasi yang berjuang gigih pada ketidakadilan, pada
penindasan, bahkan pada pembodohan. Emak saya; Emakmu; Ibu saya; Ibumu;
Mama saya; Mamamu; Bokap saya; Bokapmu; Umi saya; Umimu, itu juga
Kartini, itu pula pahlawan emansipasi, itu pula gigih berani. Tapi
entah, untuk berkata bahwa Kartini masih hidup saja, Kau sulit
mengatakan. Bahkan Kau tak pernah menyadari seberapa berartinya
pengorbanan seorang “Ibu Kandungmu” sendiri, dari sekedar Kartini yang
bukan sama sekali anggota keluargamu?.
(Emakku Kartiniku Sepanjang Masa, Aji Sutrisno)



