Aku dengan jalangnya menghampiri Pak
Wakil Presiden (Boedi Anduk) di bandara “soekarno-hatta”. Lantas aku
marah-marah dan berkata begini padanya,
“Pak Wakil, berapa lama negeri ini
kutinggal kencing sebentar di negeri orang, sudah amburadul kayak gini?,
Ada orang membaca?, Negeri ini bukannya sudah pintar?, Negeri ini
bukannya sudah tidak butuh pendidikan?. Tapi kenapa sejak kakiku
menginjak lantai “Soekarno-Hatta”, Orang-orang pada sibuk membaca?. Ah,
gak perlu baca, buat apa baca yang isinya cuma materi korupsi?.
Pendidikan gimana?”
Kemudian Pak Boedi menjawab,
“Apa yang anda bilang? Negeri ini sudah
tak perlu pendidikan? Negeri ini amburadul?, Kenapa anda bertanya pada
saya? kan yang memimpin negeri ini bukan saya. Saya hanya mengikuti Pak
ESBEHE dari belakang, itu bukan kehendak saya dong?”
Aku membacot lagi,
“Haahhaa… gak perlu ada orang membaca di
negeri ini, Pak. Toh temanya cuma korupsi..korupsi dan korupsi?.
bagaimana mau dipertahankan.Terus bapak bersembunyi di pantat pak ESBEHE
berapa puluh abad lagi. pak? pak jangan makan gaji buta..”
Tanpa mendengarkan ocehanku, Pak
Boedi Anduk seketika mengambil sepatunya dan membalang ke arah kepalaku.
Tapi Pak Boedi tampaknya harus belajar maling mangga dulu sama orang
desa, karena sepatunya tak kena sedikitpun ke kepalaku; hanya lewat. Aku
lari sekencang-kencangnya; hussssstt.
Aji Sutrisno



