Minggu, 16 Juni 2013

Cerita Nyamuk dan Lalat Dibalik Banjir Mijen, Demak

,
Di senjaku yang tak menjingga, rona malu-malu berlindung dibalik awan, hujan mengguyur membasahi tanah dan dedaunan. Aku mulai mencari-cari tempat untuk bernapas. Sementara itu, di persinggah aku duduk diam diatas tikar-tikar kamarku yang menjalar, menikmati sore yang sempat tercemar oleh dinginnya air hujan yang kini menusuk ronggaku, Tapi enggan untuk menggigil.
 
Seperti biasa aku tak mau terbodoh oleh Nyamuk, Lalat dan Laba-laba yang hidup mengoloni di kamarku. Aku tak mau mereka melihat kulitku sebagai rangkaian tanah liat yang dibentuk hanya untuk mereka gigit. Aku coba mengusik segala ketentraman mereka, dengan jari yang masih menari-nari, berjoget dengan asyiknya.

Dua telingaku dari banyak telinga yang ada, mendengar cakap Nyamuk dan Lalat. Anehnya aku tergiat untuk melihat mereka berdua. Aku ikuti dengan tajam, hingga mereka mulai asyik bertanya jawab merangkai 5W+1H pun jawabannya juga.

Nyamuk dan Lalat mulai bercerita;

“Hai Lalat, apa kau mendengar jerit keras manusia semalam?”

“Apa jerit manusia?, sepertinya aku tak mendengar. Memangnya ada apa kau bertanya tentang manusia seperti itu?”

“Aku bertanya padamu Lat, malah kau yang tanya kembali, kau ini ngigo ya?”

“Hahaha, ya maaf.  Tapi semalam temanku bilang, ia tak bisa menghisap darah segar dari manusia, yang banyak seperti biasa.”

“Sebabnya?”

“Aku tak tau, tapi ia menjelaskan padaku, bahwa pada malam itu manusia tak mau berdiam diri, mereka sibuk lari kesana-kesini entah aku tak tau ada apa.”

“Loh aku juga sama, sampah bekas makanan manusia yang biasa tebuang di tong-tong, di kali. kala itu aku cari tak ada dan tak ada satupun makanan yang tersisa.”

“Haa…? ada apa dengan manusia malam itu. Oh, apa kau tau Lat, sebabnya apa keanehan ini?”

“Aku tak tau persis, tapi kala itu manusia mengusik ketentraman sarangku yang ada di tembok-tembok rumah mereka, Anehnya mereka memanjat amat takut menuju atas genting, Aku benar-benar terusik, Aku kemudian terbang.”

“Bingung aku Lat. Ada apa dengan manusia. Eh.. eh.. eh Lat, tapi semalam temanku juga bilang, saat ia haus ingin minum, air yang diminumnya warnanya berbeda. Coklat agak kehitam-hitaman, seperti tempat tinggalnya Si Cacing; saudara kita.”

“Hah.. ada apa ini? Kau sudah bisa menyimpulkan semua itu, Muk?”

“Belum… Eh bagaimana kalau kita tanya saja pada manusia saja?”

“Apa kau bilang ! bertanya pada manusia. Gila sekali kau ini, kita kan hewan, tak punya suara yang bisa dimengerti manusia, bagaimana mungkin kau ingin bertanya pada mereka? Ah, kau ngigo lagi ya Lat”

“Oh iya. iya.. ?  amat bodoh aku ini”

“Udah Lat, aku lapar. Aku mau cari makan dulu. Mungkin kalau tidak ada darah segar dari manusia, aku hisap darah Kerbau saja.”

“Oke lah kalau begitu, Muk. Aku juga mau mencari makan yang bukan dari sisa-sisa makanan manusia, aku cari yang lain saja.”

Sementara itu disamping tembok, dibawah tempat perbincangan mereka. Aku sibuk memeletuskan gelembungan-gelembungan air mata yang perlahan mulai membasah, melumuri wajah yang dulu kering, namun kini terbanjiri nan basah.

Ternyata saat ini, sebagian dari sekian banyak manusia sedang berduka, tercoba dengan luapan air yang maha dahsyat. Banjir kiranya membuat mereka berduka dan berkorban hati, atas musibah yang sebelumnya belum pernah mereka dapati.

Dengan sedu yang masih menggaung-gaung dalam imaji. Aku beranjak dari persinggah menuju titik air, untuk berkumur lagi bersuci. Lalu ku tadah apa yang mereka kini derita, melaui lantunan doa-doa nan khitmat.

Jepara,  11 April 2013 

Aji Sutrisno

0 komentar to “ Cerita Nyamuk dan Lalat Dibalik Banjir Mijen, Demak”

Posting Komentar

 

Introvert Copyright © 2014 | Template design by Aji Sutrisno | Powered by Blogger Indonesia