Aku memandang dengan perlahan tanpa
gegabah menghampirinya. Dia begitu mempesona. Sepatu hitam nan mengkilap bak
kaca yang membias bila tersinar mentari. Kerudung mendawai meliak-liuk serasi
dengan bentuk wajah ayunya. Ia terus berjalan tanpa memandang kakan kiri. Entah
berapa puluh mata memandang dan menelan air liur akan pesonanya. Semua takjub.
Sedang aku yang sedari dulu berlindung di balik pohon mangga tak pernah berani melihatnya, praktis aku hanya mencari-cari tempat untuk kubuat berlindung dari tatapannya, dan kini di balik pohon mangga. Terus saja kumemandang. Batinku serasa ingin segera mengetahui nama Wanita cantik itu. Kakiku gatal. Rupa-rupanya pohon mangga yang aku tempati banyak semut nakalnya. Geli.
“Ihhh... gatal amat sihh”, aku menggaruk-garuk. “Semut apa tomcat ya”, batinku.
Tiba-tiba ada suara orang ketawa melengking. Oh ternyata aku dikerjain temanku. Mereka mengambil sepucuk rumput untuk kemudian mereka gunakan menebar wabah di kakiku. Usil sekali.
“Kamu lagi apa di situ?, kata temanku yang amat usil, Reno.
“Ah, kamu mengganggu saja sih, Ren. Aku kan lagi melihat bidadari yang turun dari kayangan.”
“Iya aku tau, tapi tak usah berlindung di balik pohon mangga seperti ini, yang ada malah kamu tidak terlihat olehnya.”
“Oh gitu ya. Ren?”
“Iyalah bro, kamu harus begitu. Nih, caranya kamu hampiri dia, terus kamu ajak deh kenalan. Gampang bukan?”
“Ah takut, Ren.., aku bukan seperti kamu yang gagah berani, aku kan penakut sama wanita, apalagi wanita itu cantik bak Syahrini.”
“Hahahah, terserah kamu aja, maaf aku ke kantin dulu ya, inget pohon mangga ini ada setannya, loh.”
“Aku tak takut, Ren. Sana-sana pergi, husss”
Seiring Reno yang meninggalkanku sendirian di pohon mangga ini, aku terus melanjutkan usahaku, tampak bidadari itu sedang duduk di bangku depan Perpus. Beda. sekarang ia sudah tidak lagi memandang lurus ke depan alias telah tengak-tengok sana sini.
Tiba-tiba bidadari itu melihatku, memandangku dengan tajam. Aku yang ternyata ketahuan sedang memantaunya, sedikit menciutkan badanku di balik pohon mangga tadi. Tapi usahaku gagal, ia berjalan ke arahku, sepertinya ingin menghampiri. Aku takut, aku takut kalau ia marah kepadaku karna sudah melihatnya. Namun di sisi lain aku senang, karna dengan begitu aku bisa tau nama bidadari itu.
“Hey, kamu lagi melihat apa disitu?”, tanya bidadari itu.
“Anu.. anu..ee...eee, lagi, lagi lihat.. mangga yang besar-besar”, gagap dan bohongku kepadanya. Aku mengelak.
“Oh, okelah. Terus saja lihat mangganya ya, hati-hati bisa jadi mangganya marah
sama kamu loh, karena sudah kamu pandang
terus.”
“Hehe Iya..”, sautku yang amat jumawa seraya berperang dengan hatiku; Ayo tanya dong namanya, kalau jatuh hati. Jangan lugu seperti ini. Aku tertusuk dan kalah.
Dan seperti menjadi bumerang bagiku, saat aku ingin berjalan balik ke kelas karna sudah sangat malu, ternyata mangga yang ada di pohon dimana tempatku berkedok tadi menimpa kepalaku; “Bruuukkkk... Aku tersungkur, sambil memegang kepala yang “benyok”. Terdengar dari seantero jagat sekolah, suara teman-teman yang pada menertawaiku. Begitu juga bidadari itu. “hahhaha, aku malu...”
Jepara, 30 April 2013 | Aji Sutrisno



