Hari itu tampang langit tak seperti
biasa, seolah hampa akan ‘make up’; tengil, kusut penuh mimik hitam
pekat. Ku rasa hawa dingin merasuk ke sekujur tubuh, memaksa bulu kuduk
jingkrak dari peraduannya. Pun benak berontak ingin tau ada apa gerangan
dengan planet ini?. Waswas.
Tak begitu lama, terdengar renyai suara
peluru kristal jatuh ke aspal. Membentuk titik - titik hitam rengkuh
polisi tidur. Dari jendela, seperti tak ingin melewatkan lukisan Maha
Karya ‘made in Tuhan’ itu, kupandang lentik segala butir - butir yang
bergerak tak berarah dengan ke dua telapak tangan yang masih beradu
cepat menggesek satusama lain. Dingin.
Selang beberapa menit, peluru itu
menghujam deras dengan butiran kristal banyak dan lebih besar dibanding
tadi. Kali ini ia tak lagi membentuk titik - titik, namun membentuk
siluet nge-blok lumuri aspal hingga tak terlihat sedikitpun pasir pula
polisi tidur. Aneh. Kulihat dua bocah kecil dengan gegasnya melucuti
pakaian dan cd-nya. Ku ketahui mereka bernama Zacky dan Jaledeng anak
tetangga samping rumah.
Hingga dengan tubuh loncosnya, mereka
gegirang di tengal jalan, menadah bulatan - bulatan kristal dengan amat
senang dan gembira. Tapi kulihat, mereka mulai tak nyaman dengan peluru
yang deras tapi tak bisa melumuri rambut mereka. Hingga keduanya beralih
tempat, tepat di bawah kubang pipa tempat peluru kristal lebih deras
bagai airterjun.
Jaledeng berulah. Zacky ia suruh duduk
di bawah airterjun tadi. Ia memintanya untuk menutup mata lama, dan
jangan membuka sebelum ia beri kode. Masih di balik beningnya kaca
jendela rumah, aku terus mengintai mereka berdua. Tiba - tiba Jaledeng
menyiapkan pistol mininya yang ada di bawah perut, dan “Cuurr..cuurr”
suara pistol daging meluncurkan air berwarna kekuning - kuningan,
memandikan seluruh badannya. Zacky geram dan bersiap memukul Jaledeng
yang usil dan jail itu. Tapi Jaledeng pintar, tak kuasa ia lari
terpingkal - pingkal bagai Tom n’ Jerry. Lucu.
Aku tertawa terbahak - bahak melihat
kejadian itu, dan bergegaslah kaki ini melangkah ke kamar. Mengambil
buku Diari yang telah usang berlumur debu. Hingga kejadian tadi segera
kutuang dengan pena bergoyang dan kerap lisan mesem-mesem sendiri bila
mengingat kejadian super duper lucu, tadi.
Jepara, 11 Juni 2013
Aji Sutrisno



