Di sebuah negeri Imajhi, berdiri bangunan
Kastel Elapidae yang kokoh nan masyhur. Dengan baluarti super tinggi
berbalutkan emas. Diselingi tananan mozaik-mozaik batu alam memanjang hampir
disetiap sekat peyokong bangunannya. Kastel Elipadae bertuankan seorang raja
bernama Phyton, yang hidup berdua dengan putri nian cantik, Princess Cobra.
Suatu ketika seantero negeri Imajhi
digemparkan dengan kabar dari Kastel Elapidae yang tengah berkabung. Pasalnya
putri raja, Princess Cobra tengah bersedih hati karena sepatu Pink
kesayangannya hilang, ketika ia berlibur di Telaga Xiar. Raja Kastel Elapidae
lantas mengumumkan kepada rakyatnya, bahwa ia akan mengadakan sayembara bagi
siapapun yang bisa menemukan sepatu Princess Cobra dengan imbalan, jika
perempuan akan dijadikan pewaris tahta kerajaan dan berkuasa penuh atas Kastel
Elapidae dan apabila yang menemukan sepatu itu laki-laki akan dinikahkan dengan
Princess Cobra.
Begitu mendengar sayembara yang diadakan raja
itu. Muridae sontak bangkit dari tidurnya. Ia amat kaget dengan berita dari
raja yang mengadakan sayembara, apalagi dengan imbalan yang tiada terkira.
Bergegaslah Muridae keluar dari rumahnya menuju tempat di mana sepatu Princess
Cobra hilang, di Telaga Xiar. Di situ Muridae sibuk mengobrak-abrik segala apa
yang menghalangi geraknya untuk mendapatkan sepatu. Semak belukar, ilalang
berduri ia jejali bahkan parit dengan ribuan rivalnya-pun ia renangi dengan
keberanian diri.
Seperti mimpi, tiba-tiba Muridae melihat
cahaya kecil yang ada di bawah rerimbunan sendayan. Kelap-kelip penuh kerlingan
cahaya laksana mutiara dari Swiss. Dan ternyata memang benar, benda itu adalah
sepatu Pink milik Princess Cobra yang dicari-cari. Tanpa berpikir panjang
Muridae-pun langsung mendekap sepatu itu di balik keteknya. Ia berlari kencang
sambil sesekali melihat kanan-kiri agar tidak ada yang mencurigainya. Sebab
sayembara seperti tak lagi sehat dengan ada peserta yang membawa
"dukun" agar dapat dijadikan alat jitu mengetahui keberadaan si
sepatu Pink tadi.
Muridae lantas membawa sepatu Pink itu menuju
Kastel Elapidae untuk diserahkan kepada raja. Ia begitu girang pun amat salah
tingkah karena merasa bakal menjadi suami Princess Cobra yang selalu dalam
bunga-bunga tidurnya. Tetapi naas, ia baru sadar bahwa dirinya adalah seekor
hewan berkaki empat dan lancip yang jelas-jelas makanan kesukaan raja Phyton
dan putri Princess Cobra di kerajaan. Mengetahui keduanya adalah seekor ular
yang menjadi pemangsa jenisnya tiap hari, ia pun segera lari kencang terseok-seok
menuju rumahnya dan membuang sepatu putri saat itu juga.
Tapi naas, bagai tertimpa tangga dua kali,
Muridae terjebak sekempulan ular yang sepertinya lapar sekali, karena sedari
tadi juga mencari sepatu Pink milik Princess Cobra yang hilang. Tamatlah
riwayat Muridae, karena ular-ular tadi dengan lahap memangsanya tanpa
meninggalkan tulang belulang sedikitpun.
Bumi Kartini, 19 Juni 2013
*
-Muridae: Tikus
-Imajhi: Negeri
-Kastel Elapidae: Kerajaan/Istana
-Phyton: Raja (Raja Ular)
-Princess Cobra: Putri Raja (Ular) dll.



