Aku kerapkali lihat literasi salah tempat
Seperti hilang rasa empati akan sejawat
Saling membunuh persepsi jadi lantunan
Serong kanan-kiri tak kenal aturan
Aku seringkali rasa imajinasi tak kaya arti
Seakan lenyap seluruh jiwa sastra sejati
Diksi jadi patokan menilai suatu karya
Yang belia terpingkirkan dari lomba
Aku acapkali miris, atensi menggumpal
Seolah yang kenal hanya yang dikenal
Pemenang jadi itu saja orang; bosan
Bayi baru lahir tak dikasih kesempatan
Aku berulangkali sempat gerah berkarya
Sekiranya akibat ulah durjana mereka
Memasung tanganku amat terkekang
Tak mampu berkata kemana-mana
Aku tak tau mesti berbuat apa lagi
Kerdilnya jiwaku susutkan nyali
Dari aksara yang kurangkai tiap waktu
Bergema hanya pada telinga dungu
Oh...
Egokah aku bersajak begini?
Bila itu yang terjadi saat ini?
Jika begitulah literasi masa kini?
Oh...
Sampai kapan, kan bersua?
Sosok pena pejuang sahaja
Seonggok tinta penuh jasa
Jepara, 10 Juni 2013
Aji Sutrisno



